<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JEJATUNG!</title>
	<atom:link href="http://jejatung.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jejatung.wordpress.com</link>
	<description>tentang 'JESUIT JAWA di TARUTUNG'</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jun 2008 04:20:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jejatung.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JEJATUNG!</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jejatung.wordpress.com/osd.xml" title="JEJATUNG!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jejatung.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>“Ndeso Tenan” Alias PH3 (PeHa Tolu)</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/19/%e2%80%9cndeso-tenan%e2%80%9d-alias-ph3-peha-tolu/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/19/%e2%80%9cndeso-tenan%e2%80%9d-alias-ph3-peha-tolu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 04:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Saya adalah orang Jawa, dan saya masih ingat bagaimana dulu seorang tokoh pelawak lokal kawakan yang menjadi host (dulu sih namanya bukan ‘host’, tapi pengasuh acara) di sebuah radio di Jogja, Mbah Guno bilang bahwa zaman ini sudah berubah. Teknologi &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/19/%e2%80%9cndeso-tenan%e2%80%9d-alias-ph3-peha-tolu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=26&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span> Saya adalah orang Jawa, dan saya masih ingat bagaimana dulu seorang tokoh pelawak lokal kawakan yang menjadi host (dulu sih namanya bukan ‘host’, tapi pengasuh acara) di sebuah radio di Jogja, Mbah Guno bilang bahwa zaman ini sudah berubah. Teknologi telah berkembang pesat sekali. Oleh karena itu, pesannya, kita sebagai orang Jawa harus memegang teguh prinsip: AJA GUMUN!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>‘Aja gumun’ itu artinya ‘jangan (aja) heran (gumun)’. Orang yang suka melongo, terlongoh-longoh (saya tidak tahu, apakah kata ‘longoh’ itu ada, hahaha, cuma intuisi saja!) setiap kali ada hal yang asing. Saya masih ingat, anak tetangga saya punya mainan dengan <em>remote controll</em>. Ramai anak-anak kampung datang dan merubung. Semuanya pada heran alias <em>gumun</em>. Sampai akhirnya pecah, dengan suara pongah teman saya: “Uuu, NDESOO!” Kami pun menelan ludah karena malu. ‘Ndeso’ adalah istilah lain lagi. Dari kata ‘deso’ yang berarti desa, istilah ini menunjuk pada perilaku udik yang pantas disandang orang-orang desa yang kerjanya cuma bertani, tidak terambah kemajuan teknologi, dan hanya bisa melongo terheran-heran kalau dipameri sesuatu. Orang yang suka melongo-longo dan yang udik, meski dia adalah orang kota, bisa saja disebut demikian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selama ini, setelah beberapa bulan di Tano Batak ini, saya terperanjat. Ternyata istilah yang senada dengan ‘nDeso’ muncul juga di sini. Orang akan berbisik-bisik, tuh orang itu Parhuta-huta! Orang itu dari kampung-kampung, alias orang udik! Biasanya lebih menyangkut gaya yang kurang susila. Makan dengan porsi duileee, atau bawa plastik saat datang di pesta untuk membawa pulang lauk, atau berteriak-teriak, koar-koar atas sesuatu yang sensasional (menurut mereka) dan yang lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Di sini, orang disebut Parhuta-huta karena perilaku yang menyeluruh yang disandang oleh orang dari huta-huta (kampung-kampung). Bukan sekedar tukang melongo. Hebatnya, orang Batak ini tidak pernah malu. Mereka yang dari huta-huta justru bangga. Tidak ada yang salah dari perilaku tersebut. Saya sendiri, ketika makan di kampung-kampung, menangkap atmosfer ‘kebanggaan’ ini, hingga saya merenung-renung: iya, ya, masalah kesusilaan-kesopanaan itu kan tidak bisa tunggal secara absolut. Untuk hal-hal yang pokok, memang iya, tapi kalau masalah makan, rasanya semua orang bebas. Lagipula soal istilah, saya dan teman-teman lain lebih sepakat untuk mengatakannya sebagai: eksotis. Kalau demikian tentu lebih exciting, kan!?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi bingung deh! Hehe, tapi perlu diketahui pula, bahwa diantara orang-orang Batak beredar istilah yang superlatif, PH3 alias Peha tolu, yang merupakan kependekan dari ParHuta-Huta Hian. Artinya benar-benar kampungan, alias dalam bahasa Jawa: <em>Ndesso Tenan!!!</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=26&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/19/%e2%80%9cndeso-tenan%e2%80%9d-alias-ph3-peha-tolu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Garedja’ Huta Dame di Sait Ni Huta (1)</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/%e2%80%98garedja%e2%80%99-huta-dame-di-sait-ni-huta-1/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/%e2%80%98garedja%e2%80%99-huta-dame-di-sait-ni-huta-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 06:09:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Situs atau landmark]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kita menyusuri Jalan Raja Yohanes ke arah Kecamatan Siatas Barita, lalu sebelum belok ke Jembatan Simorangkir, kita tempuh jalan yang lurus, kita akan sampai ke sebuah daerah yang disebut Sait Ni Huta. Meskipun ‘sait’ berarti ‘runcing’, tidak ada yang &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/%e2%80%98garedja%e2%80%99-huta-dame-di-sait-ni-huta-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=24&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Kalau kita menyusuri Jalan Raja Yohanes ke arah Kecamatan Siatas Barita, lalu sebelum belok ke Jembatan Simorangkir, kita tempuh jalan yang lurus, kita akan sampai ke sebuah daerah yang disebut Sait Ni Huta. Meskipun ‘sait’ berarti ‘runcing’, tidak ada yang tahu pasti apa kiranya arti dari Sait Ni Huta. Yang jelas, tanpa makna leksikal, secara historis daerah ini telah menemukan artinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kira-kira satu kilometer berjalan, berdiri dengan kokoh di pinggir jalan, sebuah patung Nommensen dengan tinggi 3 meter, terbuat dari semen, dengan balutan cat hitam, terkesan seperti pahatan batu granit. Khusus daerah ini disebut sebagai Huta Dame, tempat terkembangnya proses katekese Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nomensen adalah tokoh, dan tidak salah kalau dia menjadi ikon di tempat ini. Kedatangan Nommensen ke Silindung tercatat pada 1863. Ketika itu, ia ada di tengah-tengah puluhan raja yang penuh syak, dan menolak kedatangannya. <em>“Pagi-pagi sudah banyak raja berkumpul di sopo membicarakan tentang kedatangan Nommensen. Setiap hari mereka datang mengajukan pertanyaan yang itu-itu juga, dan jawab Nommensenpun itu-itu juga. Ada raja yang berkata: ‘Tuturmu kedengaran manis, tapi dalam hati barangkali lain.’ ‘Kamu ini disuruh Kompeni memata-matai negeri kami, supaya kami dapat ditaklukkan.’ Yang lain berkata: ‘Nanti akan datang dari Pohan memenggal kepalamu dan memakan dagingmu.’ Nommensen menjawab dengan tenang dan sabar: ‘Itu tidak mungkin. Sedangkan sehelai rambutpun tidak dapat kalian ambil kalau tidak seizin Tuhan.’ Seorang berkata sambil mengedipkan mata kepada kawannya: ‘Ah, ini Iblis.’” </em>(<strong>Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen</strong>, dikarang oleh anaknya, J.T. Nommensen).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah mendirikan rumah sederhana di atas tanah di sebelah timur Pearaja, sebagai pemberian dari Raja Ompu Bumbung dan Raja Ompu Sinangga, Nommensen mendapat lagi tanah ‘jelek’ di daerah Saitnihuta. Disebut jelek karena demikian: <em>Tanah ini dapat dikatakan tak ada pemiliknya, karena merupakan bekas palung Sungai Situmandi yang arah alirannya telah berubah melewati Hutagalung, sebagai akibat gempa besar pada tahun 1860. Sebelum itu Sungai Situmandi mengalir melalui Saitnihuta. Tidak ada apapun yang tumbuh di tanah itu, semuanya pasir belaka. Di atas pasir itulah Nommensen mendirikan rumahnya. </em>Pada 1864, Nommensen mulai mendirikan rumahnya di tempat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tempat itulah yang merupakan cikal bakal misi Nommensen. Tidak ada catatan mengenai pemberian nama Huta Dame. Barangkali, Nommensen sendiri yang memberikannya. Setelah berkali-kali dicobai dan diganggu oleh para Raja Batak yang ingin memperlihatkan kekuasaannya, pelan-pelan Nommensen memperkenalkan misinya lewat jalur pendidikan Barat dan pengobatan yang mutakhir pada zaman itu. Huta Dame pun menjadi sebuah kompleks perkampungan Kristen di tengah-tengah Rura Silindung. </span></p>
<p><em></em><em></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=24&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/%e2%80%98garedja%e2%80%99-huta-dame-di-sait-ni-huta-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Kolam Air Soda? Ah, Yang Bener Aja!</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/ada-kolam-air-soda-ah-yang-bener-aja/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/ada-kolam-air-soda-ah-yang-bener-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 06:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Situs atau landmark]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Teman saya yang ada di Jawa sana tidak pernah percaya jika saya ceritakan tentang Kolam Air Soda. “Yang bener aja!” “Ah, masak ada!” Pokoknya ada! Sebuah kolam, di mana keluar air soda yang berbuih-buih kecil persis seperti iklan Sprite itu. &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/ada-kolam-air-soda-ah-yang-bener-aja/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=23&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Teman saya yang ada di Jawa sana tidak pernah percaya jika saya ceritakan tentang Kolam Air Soda. “Yang bener aja!” “Ah, masak ada!” Pokoknya ada! Sebuah kolam, di mana keluar air soda yang berbuih-buih kecil persis seperti iklan <em>Sprite </em>itu. Hehehe, memang susah kalau tidak melihat dan merasakannya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya jadi punya kartu As untuk mengiming-imingi mereka tentang Kota Tarutung ini. Konon, hanya ada dua kolam air soda di dunia: satu di Tarutung, satu di Venezuella. Bayangkan, betapa hebatnya Indonesia bisa menjadi wakil dunia untuk memiliki aset Air Soda ini, kan. Sampai-sampai, seolah menjadi sebuah kewajiban, jika ada tamu datang ke Tarutung, harus saya antarkan untuk melihat dan ‘nyemplung’ ke air soda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Letaknya ada di daerah Parbubu, di kaki bukit Dolok Martimbang, sekitar dua-tiga kilometer dari pusat kota Tarutung. Kolam berbentuk lingkaran dengan diameter delapan meter ini ada di pinggir jalan, di sekitarnya sawah menghijau. Dilihat dari atas, kolam ini mengepulkan asap, tapi jika kita masuk sebenarnya tidak seberapa panas dibanding kolam belerang. Kita bisa turun, mandi-mandi, dan sesudah cukup, kita bisa makan snack ala kadarnya di satu-satunya warung di dekat situ. Hmm, memang salah satu hal yang mengganjal adalah, kolam soda yang langka ini seolah dikelola secara kikir: sempit, dan terkesan monopoli (sehingga saya bertanya, jangan-jangan sumber daya alam ini terlanjur jadi properti pribadi). Masalahnya, adalah potensi perkembangan menjadi terhambat, meski ini merupakan aset yang sangat menjanjikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Satu hal lagi, tidak sepantasnya kolam umum ini dipakai untuk mandi. Maaf, maaf, saya benar-benar tidak biasa melihat pemandangan ini: sementara yang lain berenang-renang, ada pula yang sedang menggosok tubuhnya dengan sabun di kolam yang sama, buih-buih sabun itu mengapung-ngapung. Memang toh nanti akan terbuang juga, karena kolam ini mengalirkan air tanpa henti. Tapi, itu kan limbah, kita tahu tujuan limbah adalah dibuang, mengapa kita membiarkan orang lain ‘tersentuh’ limbah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seorang teman dari Palipi saya ajak ke sini. Kami sepakat bahwa ini merupakan pola budaya masyarakat Danau Toba, yang juga mandi-cuci di pinggiran Toba. Toba yang seluas itu memang masih bisa menyembunyikan limbah yang sporadis. Sayangnya, orang non lokal, atau sebutlah para turis, akan miris dan jijik, melihat limbah mengotori danau atau kolam. Alih-alih berenang, melihat saja ogah. Lalu, gimana air soda, apa pendapatmu sendiri? </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=23&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/16/ada-kolam-air-soda-ah-yang-bener-aja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demam Internet, Apa Mau Dikata?</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/demam-internet-apa-mau-dikata/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/demam-internet-apa-mau-dikata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Situs atau landmark]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pertama kali datang, hal pertama yang saya cari adalah tempat untuk mengakses internet. Saya harus mengirimkan kabar kepada teman-teman dan saudara bahwa saya sudah tiba dengan selamat. Karena itu, paginya saya ambil motor dan memacunya. Saya pacu ke arah &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/demam-internet-apa-mau-dikata/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=19&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Ketika pertama kali datang, hal pertama yang saya cari adalah tempat untuk mengakses internet. Saya harus mengirimkan kabar kepada teman-teman dan saudara bahwa saya sudah tiba dengan selamat. Karena itu, paginya saya ambil motor dan memacunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya pacu ke arah utara. Seingat saya, dalam perjalanan kemarin saya sekilas melihat sebuah warnet di Siborongborong. Saya menempuh jarak kira-kira 30 an kilometer hanya demi sambungan internet, <em>a la </em>dial up via telkomnet instan (kadang-kadang putus, karena siang-siang!). Untuk setengah jam, saya dikenai tarif 12.500 rupiah. Meski mahal, saya menerima saja. Daripada tidak, pikirku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Beberapa hari sesudahnya, saya mengumpat-umpati kebodohan saya. Ternyata di Tarutung ada warnet, dengan sambungan speedy, dan sudah cukup murah. Hanya 5000 rupiah. Itulah warnet HKBP, dengan cat biru pada <em>banner</em>-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Itu adalah 9 bulan yang lalu. Kini tidak terasa, jumlah warnet mulai menjamur. Di kota ini, sudah ada 4 warnet, kalau tidak salah. Saya sendiri, yang semula jadi pelanggan setia warnet HKBP, akhirnya pindah ke Marganti, sama-sama sejalur di jalan Sisingamangaraja. Selain itu masih ada lagi, warnet di jalan Balige yang kecil mungil tersembunyi, serta satu di jalan menanjak mau ke tangsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Internet memang jadi sebuah kebutuhan. Paling tidak saya mencoba memasang kuping, setiap kali saya datang ke warnet. Sejauh ini, warnet banyak didatangi oleh para wartawan lokal. Ada yang biasa mengakses berita dari detik.net untuk dikemas lagi (<em>repackage</em>, hahaha), atau sekedar mengirim berita saja ke meja redaktur. Selain itu, anak-anak muda kini banyak yang mulai kenal friendster dan mulai mengupload foto-foto. Tidak terbilang juga yang sembarangan membuka dan mendownload foto atau video porno ke <em>desktop</em> (aduuuh, ketahuan lah!).</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;">Satu komentar saja. Demam internet adalah fenomena urban yang menandai Tarutung sebagai kota yang terlalu ‘sempit’, sehingga mendesak orang-orang untuk menyeruduk batas geografis melalui internet. Karena Tarutung kurang gaul, kurang maju, kurang keren, banyak muda-mudi, milih gaul dalam ruang maya. Ya, tidak apa-apa sih, asal kaki masih menjejak bumi. Artinya, wawasan memang harus global, tapi tindakan harus bermula dari lokal.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Garamond;">Semoga keempat warnet membuka wawasan muda-mudi Tarutung, untuk <em>MARTABE</em>, alias <em>Marsipature Hutanabe</em>. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=19&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/demam-internet-apa-mau-dikata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Happy Easter From Mr. Banner</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/happy-easter-from-mr-banner/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/happy-easter-from-mr-banner/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:04:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Pada Hari-hari Penting, entah Paskah maupun Natal, entah hari jadi Tarutung ataupun 17 Agustus, seisi kota Tarutung menjadi riuh. Kalau kita berjalan bertolak dari pusat kota, melewati jembatan besar yang di selatan, coba dongakkan kepala. Di atas, tergantung sekitar sepuluh &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/happy-easter-from-mr-banner/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=18&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Pada Hari-hari Penting, entah Paskah maupun Natal, entah hari jadi Tarutung ataupun 17 Agustus, seisi kota Tarutung menjadi riuh. Kalau kita berjalan bertolak dari pusat kota, melewati jembatan besar yang di selatan, coba dongakkan kepala. Di atas, tergantung sekitar sepuluh spanduk, warna-warni. Dalam jarak yang begitu rapat antara satu dengan yang lain, kadang-kadang spanduk-spanduk itu tidak dapat terbaca. Semuanya punya pesan yang seragam, kira-kira begini “Bapak Anu Marga Anu Mengucapkan Selamat Natal/Selamat Paskah, dsb”. Terkesan ramah, tapi ‘ada udangnya’, karena keramahan ini ditempuh demi kampanye, entah calon bupati, calon gubernur, entah partai, entah ormas tertentu. <em>Weleh</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apalagi sekarang memang momentumnya sangat tepat. Setelah momen pemilihan Gubernur Sumatera Utara berlalu, daerah Tarutung sedang mempersiapkan diri untuk pemilihan bupati dan wakil bupati untuk Kabupaten Tapanuli Utara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Melihat dari segi efektivitas, fungsi spanduk-spanduk itu sudah bukan lagi informatif, karena saya yakin seratus persen, publik tarutung tidak pernah merasa butuh ucapan selamat ini itu, alih-alih secara jeli mencari. Lagi, secara informatif pula, karena sedemikian banyaknya, dan pemasangan yang berjubel, bisa dipastikan spanduk itu tidak terbaca. Nah, kalau tidak bisa terbaca, apa lagi gunanya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Strategi politis itu bermacam-macam. Ketika Jerman berhasil mengalahkan Prancis, seorang filsuf Jerman, Friedreich Nietzche tersenyum sinis: “Jerman tidak benar-benar menang, karena Prancis sudah mengkoloni kita dalam segi budaya.” Artinya, ada strategi halus yang lebih mengikat tanpa sadar, ketimbang berperang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kita tabu berperang, tapi siapa yang akan melarang kita untuk memasang ucapan selamat? Bukankah ini budi bahasa yang halus dan ramah. Sayangnya publik Tarutung bukanlah orang kemarin sore. Justru kini permasalahannya adalah, ruang terbuka yang bebas, nyaman, dan indah, yang harusnya menjadi hak semua penduduk, jadi ‘kotor’ gara-gara spanduk yang (boro-boro ada seninya!) datar dan seragam. Ini adalah hak, yaitu hak untuk mendapatkan ruang publik, yang bebas dari intrik, dan kepentingan kelompok. Solusinya adalah bukan untuk melarang, melainkan memberikan ruang (maupun waktu) yang tertentu untuk kepentingan-kepentingan semacam itu.<span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=18&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/happy-easter-from-mr-banner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bakso Rahayu, in Memoriam</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/bakso-rahayu-in-memoriam/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/bakso-rahayu-in-memoriam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Situs atau landmark]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Saya masih ingat Bakso Rahayu. Kedainya berwarna hijau, ada di simpang tiga Jalan D.I. Panjaitan. Penjualnya adalah orang Jawa, bahkan pegawainya pun juga. Saya yang adalah orang Jawa, kadang-kadang bernostalgia dengan teman satu suku ini, ingin bertukar rasa tentang hal-hal &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/bakso-rahayu-in-memoriam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=17&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Saya masih ingat Bakso Rahayu. Kedainya berwarna hijau, ada di simpang tiga Jalan D.I. Panjaitan. Penjualnya adalah orang Jawa, bahkan pegawainya pun juga. Saya yang adalah orang Jawa, kadang-kadang bernostalgia dengan teman satu suku ini, ingin bertukar rasa tentang hal-hal yang ‘Jawa’, atau sekedar menjalin komunikasi satu bahasa ibu. Bahkan, saya jadi tahu, salah satu pegawai berasal dari Wonosari, satu provinsi dengan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Entah sejak kapan (kira-kira bulan Oktober?) Bakso Rahayu sudah tutup. Kedainya kini saya longok sambil lalu saja, telah jadi warung kelontong biasa. Wah, padahal menurut saya, Bakso Rahayu adalah yang paling enak, paling tidak dibandingkan dengan bakso-bakso dari warung lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bicara-bicara mengenai Bakso Rahayu, saya jadi ingat satu komentar seorang teman Batak saya. Saya pernah bilang bahwa saya suka makan Bakso Rahayu ini. Apa komentarnya? “Ya jelas, lah. Karena frater bisa ketemu sama orang Jawa. Orang Jawa kan ke sini pasti jualan bakso.” “Kecuali saya!”. Waduuh, saya menelan ludah, membayangkan nasib orang Jawa yang jadi <em>parbakso </em>ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bakso Rahayu memang sangat laris (sejauh pengamatan saya, lho!), dan pelanggannya juga banyak orang Batak. Tapi meski doyan Bakso dan ada pangsa pasar yang menjanjikan, satu pertanyaan jadi muncul: kenapa orang Batak ogah jadi tukang bakso?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Perkenankan saya untuk tidak menjawabnya, meski dengan ngoceh <em>ngalor-ngidul </em>seperti biasa. Kata teman saya ini, jawabannya jelas: orang Batak gengsinya tinggi. Mana mau jadi tukang bakso. Memang ada profesi-profesi yang dianggap memalukan: tukang bakso, tukang es tungtung, dan pengemis. Kategorinya memang kadang-kadang tidak logis. Saya pernah menemukan orang Batak jadi tukang jualan tape singkong dari rumah ke rumah, jualan sangsang, tukang tambal ban, loper koran. Unik ya!</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=17&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/15/bakso-rahayu-in-memoriam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkat Atas Mayat, Berkat Atas Tulang</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berkat-atas-mayat-berkat-atas-tulang/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berkat-atas-mayat-berkat-atas-tulang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 03:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah dan Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Nah, inilah salah satu tugas seorang frater, calon imam yang tinggal di sebuah paroki: memberkati jenasah! Jika waktu mengizinkan, saya siap untuk diminta memberkati jenasah. Jenazah akan diberkati dengan ritual Katolik mulai dari rumah hingga ke pemakaman (udean). Pemberkatan pertama &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berkat-atas-mayat-berkat-atas-tulang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=15&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Nah, inilah salah satu tugas seorang frater, calon imam yang tinggal di sebuah paroki: memberkati jenasah! Jika waktu mengizinkan, saya siap untuk diminta memberkati jenasah. Jenazah akan diberkati dengan ritual Katolik mulai dari rumah hingga ke pemakaman (udean).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pemberkatan pertama kali adalah di Bahalbatu, sebuah stasi atau wilayah di utara Sipoholon, masuk kira-kira 6 km. Inilah kali pertama saya melihat bagaimana ritual kematian seorang Batak dirayakan. Pemberkatan jenasah secara Katolik selalu dimasukkan dalam kerangka adat, jadi waktu itu saya menunggu dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Acara adat sudah dimulai sejak pagi ternyata. Di depan rumah sanak saudara itu, telah berdiri tenda besar, dan peti beserta jenasah ada di tengah-tengah. Ini yang menarik, suasananya sungguh gaduh dan hiruk pikuk. Ada MC yang berteriak-teriak dengan microphone, ada iringan organ plus gondrang dilengkapi dengan saxophone. Orang-orang lalu lalang. Di sudut-sudut sudah berjajar para penjual limun, sementara di samping, orang-orang mengaduk saksang. Bergiliran sanak keluarga menari-nari, dengan iringan organ yang lumayan <em>upbeat.</em> Para bapak dan ibu dibalut dengan pakaian, entah kebaya entah jas, berwarna hitam; ada pula yang berselempangkan ulos dengan corak tertentu.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya mengamati dari kejauhan. Memang sebagian besar tidak menampakkan duka mendalam (minimal, menurut saya orang yang berduka pasti terdiam). Hanya ada satu dua orang saja yang menangis tersedu, saya pastikan mereka adalah orang-orang terdekat almarhum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan keadaan semacam itu, saya memang lalu jadi kikuk. Apa yang mau saya khotbahkan, seolah tidak pekat atmosfer duka dalam perayaan kematian ini?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Beberapa kali, saya tidak hanya memberkati jenasah. Selain jenasah, pernah pula saya harus memberkati tulang belulang (terkadang bersamaan). Tulang belulang sanak saudara diangkat dari makam dan dipetikan, lalu disemayamkan di kuburan keluaga. Unik, kan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tidak akan dipungkiri, setiap budaya merayakan <em>rite de passage</em>, mulai dalam kandungan, lahir, menikah, hingga meninggal. Di antara itu semua, saya selalu tertarik dengan kematian. Setiap ritual selalu mencerminkan pandangan masyakarat yang bersangkutan terhadap kematian. Saya berpikir-pikir, dalam gempita pesta dan perayaan dengan tiupan saxophone kampung dan gondrang aneka jenis, kematian terasa akrab dan megah di mata orang Batak Toba.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=15&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berkat-atas-mayat-berkat-atas-tulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berdagang Genset dan Parabola: Mau?</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berdagang-genset-dan-parabola-mau/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berdagang-genset-dan-parabola-mau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 03:47:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Waktu ada seorang pater (pastor) dari Italia datang ke tempat ini, saya antar beliau jalan-jalan. Sampai akhirnya, kami termangu di depan sebuah rumah reyot dekat Stadion. Yang membuat kami tertarik adalah rumah itu begitu reyotnya sehingga pintu pun tidak ada. &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berdagang-genset-dan-parabola-mau/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=14&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Waktu ada seorang pater (pastor) dari Italia datang ke tempat ini, saya antar beliau jalan-jalan. Sampai akhirnya, kami termangu di depan sebuah rumah reyot dekat Stadion. Yang membuat kami tertarik adalah rumah itu begitu reyotnya sehingga pintu pun tidak ada. Tetapi meski demikian, di atas atap rumah itu berdiri menjulang sebuah antene parabola, dan asumsinya: tidak ada pintu tidak apa-apa, asal kami masih bisa menonton. Kami geleng-geleng kepala campur geli. Inilah zaman yang digencet ‘media’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya pun menyodorkan sebuah anekdot yang agak kasar (maafkan saya, pembaca!). Ada dua benda yang tanpa perlu diragukan lagi, akan laris manis dijual di Sumatera Utara ini, yaitu Generator Listrik dan Parabola. Pater itupun tertawa. Saya jelaskan bahwa Generator Listrik pasti banyak dicari terkait dengan listrik yang sering ‘mati-hidup’, sementara Parabola adalah satu-satunya cara untuk menangkap stasiun-stasiun TV.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setidaknya hal itu memang sangat konkret. Perjalanan kami sampai di depan kantor Bupati. Kami berdua berdiri menghadap ke jalan raya di bawah. Di bawah kami, terpampang atap-atap rumah yang hampir semuanya dihiasi dengan antena parabola. Lepas dari sinetron, berita atau MamaMia, tontonan yang ditawarkan media tentu memberikan percepatan pola pikir. Mari berdoa supaya segalanya, cepat atau lambat, mengarah pada kemajuan. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=14&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/05/berdagang-genset-dan-parabola-mau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kronik Minggu Pagi</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/kronik-minggu-pagi/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/kronik-minggu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 10:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Perilaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Setiap Minggu pagi, saya mencoba bangun lebih awal. Kira-kira jam 5.30 (ini sudah lebih awal menurut saya, hehehe!). Ritual pertama minggu pagi adalah pakai sepatu sport, lalu keluar kamar untuk jogging! Tarutung pada Minggu pagi punya wajah tersendiri. Meski gelap, &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/kronik-minggu-pagi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=13&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Setiap Minggu pagi, saya mencoba bangun lebih awal. Kira-kira jam 5.30 (ini sudah lebih awal menurut saya, hehehe!). Ritual pertama minggu pagi adalah pakai sepatu sport, lalu keluar kamar untuk <em>jogging</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tarutung pada Minggu pagi punya wajah tersendiri. Meski gelap, ternyata saya tidak sendirian. Banyak sekali muda-mudi, tua-tui (haha!), maupun anak-anak yang berlari pagi. Suasana menjadi ramai, ketika kita menyusuri jalanan yang sepi dari kendaraan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bisa kita bagi demikian. Satu adalah orang-orang yang memang punya tujuan mulia, ingin jogging demi kesehatan. Nah, orang-orang ini adalah mereka yang lari dari beberapa tipe kecepatan, yang penting tidak jalan. Dua adalah muda-mudi yang biasanya hanya jalan cepat, atau bahkan jalan pelan saja, sambil memasang earphone. Aneh, biasanya mereka memakai kostum yang keren, <em>sporty look</em>, lengkap dengan sepatu. Bisa jadi mereka memang keluar untuk tp-tp saja (tebar pesona, hehe!). Ketiga, adalah yang paling parah, mereka adalah orang-orang yang nongkrong-nongkrong saja. Nongkrong di jembatan, nongkrong di tugu simpang empat, atau nongkrong di sekitar penjual bubur di Aek Ristop. Mereka adalah orang-orang yang mungkin bangun pagi untuk olah raga mata saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Spot para pelari pagi ada tiga, bisa di kawasan kota maupun di lapangan tangsi maupun stadion. Tetapi yang paling menarik adalah di kota. Begini rute saya, saya akan berlari terus dari jalan DI Panjaitan, belok kanan di jalan Balige, lalu sampai di Jalan Sisingamangaraja. Setelah itu jalan kaki, naik ke kantor Bupati, menikmati cahaya pagi di timur sana. Lalu turun melewati prasasti The Legend. Setelah itu jalan kaki menyusuri Sungai Sigeaon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat jalan kaki ini, biasanya kantor Bupati mulai menyetel keras-keras lagu-lagu Rohani Kristen, seperti ‘Janjimu Sperti Fajar’, ‘Above All’, dll. Unik sekali, saya bisa paham. Karena komposisi demografis Tarutung yang sembilan puluh persen adalah Katolik, sah-sah saja diputar keras-keras lagu rohani macam itu. Hehehe. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=13&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/kronik-minggu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sungai (2): Yang Mistis dari Situmandi</title>
		<link>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/sungai-2-yang-mistis-dari-situmandi/</link>
		<comments>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/sungai-2-yang-mistis-dari-situmandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 10:19:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adinto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Situs atau landmark]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejatung.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Sudah berapa banyak, saya dengar kisah-kisah misterius dengan setting Sungai Situmandi. Jika saya turun dari Sipahutar, lalu ke Siarangarang, saya menatap derasnya Sungai ini yang menderu hingga ke Siatas Barita. Entah ke mana muaranya. Saya tidak bisa lupa kisah-kisah di &#8230; <a href="http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/sungai-2-yang-mistis-dari-situmandi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=12&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Sudah berapa banyak, saya dengar kisah-kisah misterius dengan setting Sungai Situmandi. Jika saya turun dari Sipahutar, lalu ke Siarangarang, saya menatap derasnya Sungai ini yang menderu hingga ke Siatas Barita. Entah ke mana muaranya. Saya tidak bisa lupa kisah-kisah di balik itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya pernah iseng menawari beberapa teman untuk turun dan menyusuri Aek Situmandi. Tidak tahu juga, apakah teman saya yang memang penakut, ya. Tapi, selalu disambut dengan kisah-kisah betapa dalam dan angkernya sungai ini, yang akhirnya berujung pada penolakan. Yaah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kisah Boru Tumandi, saya dengar dari beberapa orang. Maafkan saya jika tidak akurat, dan boleh ditambahi bagi mereka yang merasa punya versi yang lebih detail dan terpercaya. Kisahnya tentang Boru Hutabarat yang cantik tak terpermanai, yang telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pemuda, sampai-sampai pemuda pilihan putri ini pun terpaksa harus disingkirkan jauh-jauh. Dalam kegelisahan, putri ini berkenalan dengan seorang pemuda yang telah lebih dulu jatuh cinta. Cinta mereka yang tak direstui berjalan secara rahasia. Sampai akhirnya, diajaklah putri ini ke rumah sang lelaki, yang ternyata adalah sebuah liang. Sang lelaki, adalah ular penunggu Sungai Situmandi, menikahi putri ini dan lenyap ke dunianya. Hingga kini liang Si Boru Tumandi itu masih ada, dan banyak dikunjungi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kisah ini menjadi <em>urban legend </em>penduduk Tarutung. Sungai ini pun memang teramat sunyi, tenang dan berwibawa. Membawa serta kisah-kisah mistik ini mengalir, sekali lagi entah ke mana muaranya. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jejatung.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jejatung.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jejatung.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jejatung.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jejatung.wordpress.com&amp;blog=3088663&amp;post=12&amp;subd=jejatung&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejatung.wordpress.com/2008/05/04/sungai-2-yang-mistis-dari-situmandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0a2a9d761472584263dae8697ca6e891?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">adinto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
