Teman saya yang ada di Jawa sana tidak pernah percaya jika saya ceritakan tentang Kolam Air Soda. “Yang bener aja!” “Ah, masak ada!” Pokoknya ada! Sebuah kolam, di mana keluar air soda yang berbuih-buih kecil persis seperti iklan Sprite itu. Hehehe, memang susah kalau tidak melihat dan merasakannya sendiri.
Saya jadi punya kartu As untuk mengiming-imingi mereka tentang Kota Tarutung ini. Konon, hanya ada dua kolam air soda di dunia: satu di Tarutung, satu di Venezuella. Bayangkan, betapa hebatnya Indonesia bisa menjadi wakil dunia untuk memiliki aset Air Soda ini, kan. Sampai-sampai, seolah menjadi sebuah kewajiban, jika ada tamu datang ke Tarutung, harus saya antarkan untuk melihat dan ‘nyemplung’ ke air soda.
Letaknya ada di daerah Parbubu, di kaki bukit Dolok Martimbang, sekitar dua-tiga kilometer dari pusat kota Tarutung. Kolam berbentuk lingkaran dengan diameter delapan meter ini ada di pinggir jalan, di sekitarnya sawah menghijau. Dilihat dari atas, kolam ini mengepulkan asap, tapi jika kita masuk sebenarnya tidak seberapa panas dibanding kolam belerang. Kita bisa turun, mandi-mandi, dan sesudah cukup, kita bisa makan snack ala kadarnya di satu-satunya warung di dekat situ. Hmm, memang salah satu hal yang mengganjal adalah, kolam soda yang langka ini seolah dikelola secara kikir: sempit, dan terkesan monopoli (sehingga saya bertanya, jangan-jangan sumber daya alam ini terlanjur jadi properti pribadi). Masalahnya, adalah potensi perkembangan menjadi terhambat, meski ini merupakan aset yang sangat menjanjikan.
Satu hal lagi, tidak sepantasnya kolam umum ini dipakai untuk mandi. Maaf, maaf, saya benar-benar tidak biasa melihat pemandangan ini: sementara yang lain berenang-renang, ada pula yang sedang menggosok tubuhnya dengan sabun di kolam yang sama, buih-buih sabun itu mengapung-ngapung. Memang toh nanti akan terbuang juga, karena kolam ini mengalirkan air tanpa henti. Tapi, itu kan limbah, kita tahu tujuan limbah adalah dibuang, mengapa kita membiarkan orang lain ‘tersentuh’ limbah itu.
Seorang teman dari Palipi saya ajak ke sini. Kami sepakat bahwa ini merupakan pola budaya masyarakat Danau Toba, yang juga mandi-cuci di pinggiran Toba. Toba yang seluas itu memang masih bisa menyembunyikan limbah yang sporadis. Sayangnya, orang non lokal, atau sebutlah para turis, akan miris dan jijik, melihat limbah mengotori danau atau kolam. Alih-alih berenang, melihat saja ogah. Lalu, gimana air soda, apa pendapatmu sendiri?