Kalau kita menyusuri Jalan Raja Yohanes ke arah Kecamatan Siatas Barita, lalu sebelum belok ke Jembatan Simorangkir, kita tempuh jalan yang lurus, kita akan sampai ke sebuah daerah yang disebut Sait Ni Huta. Meskipun ‘sait’ berarti ‘runcing’, tidak ada yang tahu pasti apa kiranya arti dari Sait Ni Huta. Yang jelas, tanpa makna leksikal, secara historis daerah ini telah menemukan artinya sendiri.
Kira-kira satu kilometer berjalan, berdiri dengan kokoh di pinggir jalan, sebuah patung Nommensen dengan tinggi 3 meter, terbuat dari semen, dengan balutan cat hitam, terkesan seperti pahatan batu granit. Khusus daerah ini disebut sebagai Huta Dame, tempat terkembangnya proses katekese Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen.
Nomensen adalah tokoh, dan tidak salah kalau dia menjadi ikon di tempat ini. Kedatangan Nommensen ke Silindung tercatat pada 1863. Ketika itu, ia ada di tengah-tengah puluhan raja yang penuh syak, dan menolak kedatangannya. “Pagi-pagi sudah banyak raja berkumpul di sopo membicarakan tentang kedatangan Nommensen. Setiap hari mereka datang mengajukan pertanyaan yang itu-itu juga, dan jawab Nommensenpun itu-itu juga. Ada raja yang berkata: ‘Tuturmu kedengaran manis, tapi dalam hati barangkali lain.’ ‘Kamu ini disuruh Kompeni memata-matai negeri kami, supaya kami dapat ditaklukkan.’ Yang lain berkata: ‘Nanti akan datang dari Pohan memenggal kepalamu dan memakan dagingmu.’ Nommensen menjawab dengan tenang dan sabar: ‘Itu tidak mungkin. Sedangkan sehelai rambutpun tidak dapat kalian ambil kalau tidak seizin Tuhan.’ Seorang berkata sambil mengedipkan mata kepada kawannya: ‘Ah, ini Iblis.’” (Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, dikarang oleh anaknya, J.T. Nommensen).
Setelah mendirikan rumah sederhana di atas tanah di sebelah timur Pearaja, sebagai pemberian dari Raja Ompu Bumbung dan Raja Ompu Sinangga, Nommensen mendapat lagi tanah ‘jelek’ di daerah Saitnihuta. Disebut jelek karena demikian: Tanah ini dapat dikatakan tak ada pemiliknya, karena merupakan bekas palung Sungai Situmandi yang arah alirannya telah berubah melewati Hutagalung, sebagai akibat gempa besar pada tahun 1860. Sebelum itu Sungai Situmandi mengalir melalui Saitnihuta. Tidak ada apapun yang tumbuh di tanah itu, semuanya pasir belaka. Di atas pasir itulah Nommensen mendirikan rumahnya. Pada 1864, Nommensen mulai mendirikan rumahnya di tempat itu.
Tempat itulah yang merupakan cikal bakal misi Nommensen. Tidak ada catatan mengenai pemberian nama Huta Dame. Barangkali, Nommensen sendiri yang memberikannya. Setelah berkali-kali dicobai dan diganggu oleh para Raja Batak yang ingin memperlihatkan kekuasaannya, pelan-pelan Nommensen memperkenalkan misinya lewat jalur pendidikan Barat dan pengobatan yang mutakhir pada zaman itu. Huta Dame pun menjadi sebuah kompleks perkampungan Kristen di tengah-tengah Rura Silindung.