Ketika pertama kali datang, hal pertama yang saya cari adalah tempat untuk mengakses internet. Saya harus mengirimkan kabar kepada teman-teman dan saudara bahwa saya sudah tiba dengan selamat. Karena itu, paginya saya ambil motor dan memacunya.
Saya pacu ke arah utara. Seingat saya, dalam perjalanan kemarin saya sekilas melihat sebuah warnet di Siborongborong. Saya menempuh jarak kira-kira 30 an kilometer hanya demi sambungan internet, a la dial up via telkomnet instan (kadang-kadang putus, karena siang-siang!). Untuk setengah jam, saya dikenai tarif 12.500 rupiah. Meski mahal, saya menerima saja. Daripada tidak, pikirku.
Beberapa hari sesudahnya, saya mengumpat-umpati kebodohan saya. Ternyata di Tarutung ada warnet, dengan sambungan speedy, dan sudah cukup murah. Hanya 5000 rupiah. Itulah warnet HKBP, dengan cat biru pada banner-nya.
Itu adalah 9 bulan yang lalu. Kini tidak terasa, jumlah warnet mulai menjamur. Di kota ini, sudah ada 4 warnet, kalau tidak salah. Saya sendiri, yang semula jadi pelanggan setia warnet HKBP, akhirnya pindah ke Marganti, sama-sama sejalur di jalan Sisingamangaraja. Selain itu masih ada lagi, warnet di jalan Balige yang kecil mungil tersembunyi, serta satu di jalan menanjak mau ke tangsi.
Internet memang jadi sebuah kebutuhan. Paling tidak saya mencoba memasang kuping, setiap kali saya datang ke warnet. Sejauh ini, warnet banyak didatangi oleh para wartawan lokal. Ada yang biasa mengakses berita dari detik.net untuk dikemas lagi (repackage, hahaha), atau sekedar mengirim berita saja ke meja redaktur. Selain itu, anak-anak muda kini banyak yang mulai kenal friendster dan mulai mengupload foto-foto. Tidak terbilang juga yang sembarangan membuka dan mendownload foto atau video porno ke desktop (aduuuh, ketahuan lah!).
Satu komentar saja. Demam internet adalah fenomena urban yang menandai Tarutung sebagai kota yang terlalu ‘sempit’, sehingga mendesak orang-orang untuk menyeruduk batas geografis melalui internet. Karena Tarutung kurang gaul, kurang maju, kurang keren, banyak muda-mudi, milih gaul dalam ruang maya. Ya, tidak apa-apa sih, asal kaki masih menjejak bumi. Artinya, wawasan memang harus global, tapi tindakan harus bermula dari lokal.
Semoga keempat warnet membuka wawasan muda-mudi Tarutung, untuk MARTABE, alias Marsipature Hutanabe.
web.frater sudah saya bk,.
gbu
gambarnx diperbnyk donk,,
tp yg kren2 yah..
trus tulisannx nyusul y frater,,,
bt tulisn ttg mesdinr y,,