Berkat Atas Mayat, Berkat Atas Tulang

Nah, inilah salah satu tugas seorang frater, calon imam yang tinggal di sebuah paroki: memberkati jenasah! Jika waktu mengizinkan, saya siap untuk diminta memberkati jenasah. Jenazah akan diberkati dengan ritual Katolik mulai dari rumah hingga ke pemakaman (udean).

Pemberkatan pertama kali adalah di Bahalbatu, sebuah stasi atau wilayah di utara Sipoholon, masuk kira-kira 6 km. Inilah kali pertama saya melihat bagaimana ritual kematian seorang Batak dirayakan. Pemberkatan jenasah secara Katolik selalu dimasukkan dalam kerangka adat, jadi waktu itu saya menunggu dulu.

Acara adat sudah dimulai sejak pagi ternyata. Di depan rumah sanak saudara itu, telah berdiri tenda besar, dan peti beserta jenasah ada di tengah-tengah. Ini yang menarik, suasananya sungguh gaduh dan hiruk pikuk. Ada MC yang berteriak-teriak dengan microphone, ada iringan organ plus gondrang dilengkapi dengan saxophone. Orang-orang lalu lalang. Di sudut-sudut sudah berjajar para penjual limun, sementara di samping, orang-orang mengaduk saksang. Bergiliran sanak keluarga menari-nari, dengan iringan organ yang lumayan upbeat. Para bapak dan ibu dibalut dengan pakaian, entah kebaya entah jas, berwarna hitam; ada pula yang berselempangkan ulos dengan corak tertentu.

Saya mengamati dari kejauhan. Memang sebagian besar tidak menampakkan duka mendalam (minimal, menurut saya orang yang berduka pasti terdiam). Hanya ada satu dua orang saja yang menangis tersedu, saya pastikan mereka adalah orang-orang terdekat almarhum.

Dengan keadaan semacam itu, saya memang lalu jadi kikuk. Apa yang mau saya khotbahkan, seolah tidak pekat atmosfer duka dalam perayaan kematian ini?

Beberapa kali, saya tidak hanya memberkati jenasah. Selain jenasah, pernah pula saya harus memberkati tulang belulang (terkadang bersamaan). Tulang belulang sanak saudara diangkat dari makam dan dipetikan, lalu disemayamkan di kuburan keluaga. Unik, kan.

Tidak akan dipungkiri, setiap budaya merayakan rite de passage, mulai dalam kandungan, lahir, menikah, hingga meninggal. Di antara itu semua, saya selalu tertarik dengan kematian. Setiap ritual selalu mencerminkan pandangan masyakarat yang bersangkutan terhadap kematian. Saya berpikir-pikir, dalam gempita pesta dan perayaan dengan tiupan saxophone kampung dan gondrang aneka jenis, kematian terasa akrab dan megah di mata orang Batak Toba.

Leave a Comment

Filed under Kisah dan Pengalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s