Waktu ada seorang pater (pastor) dari Italia datang ke tempat ini, saya antar beliau jalan-jalan. Sampai akhirnya, kami termangu di depan sebuah rumah reyot dekat Stadion. Yang membuat kami tertarik adalah rumah itu begitu reyotnya sehingga pintu pun tidak ada. Tetapi meski demikian, di atas atap rumah itu berdiri menjulang sebuah antene parabola, dan asumsinya: tidak ada pintu tidak apa-apa, asal kami masih bisa menonton. Kami geleng-geleng kepala campur geli. Inilah zaman yang digencet ‘media’.
Saya pun menyodorkan sebuah anekdot yang agak kasar (maafkan saya, pembaca!). Ada dua benda yang tanpa perlu diragukan lagi, akan laris manis dijual di Sumatera Utara ini, yaitu Generator Listrik dan Parabola. Pater itupun tertawa. Saya jelaskan bahwa Generator Listrik pasti banyak dicari terkait dengan listrik yang sering ‘mati-hidup’, sementara Parabola adalah satu-satunya cara untuk menangkap stasiun-stasiun TV.
Setidaknya hal itu memang sangat konkret. Perjalanan kami sampai di depan kantor Bupati. Kami berdua berdiri menghadap ke jalan raya di bawah. Di bawah kami, terpampang atap-atap rumah yang hampir semuanya dihiasi dengan antena parabola. Lepas dari sinetron, berita atau MamaMia, tontonan yang ditawarkan media tentu memberikan percepatan pola pikir. Mari berdoa supaya segalanya, cepat atau lambat, mengarah pada kemajuan.