Konon katanya, sungai dan kota adalah satu paket peradaban. Artinya, keduanya sama-sama saling berutang. Ada simbiosis yang mutualistik demi kemajuan tata kota dan manusia-manusianya; hal itu berkaitan dengan kemampuan manusia untuk merawat sungai tersebut. Di Chao Praya, di Venezia, di Yang Tse Kiang, dan Rheine, terpampang manusia kota yang arif dan budiman.
Teknologi sungai itu antara lain: membangun drainase, membangun sistem pembuangan air, membuat tanggul, hingga memanfaatkan dari segi estetika atau pariwisata. Dari hal-hal yang menyangkut kebutuhan pokok, hingga hal-hal yang sekunder lalu tersier, terkembang dari relasi kota-sungai ini.
(Saya ingat, Jakarta adalah contoh buruk dari hal ini. Semegah-megahnya dan sebersih-bersihnya mal atau apartemen, hati semua orang akan kecut kalau melihat aliran sungai Ciliwung yang hitam pekat! Seumur-umur, baru di Jakarta saya lihat warna air sungai yang hitam seperti itu – selain pernah pula saya menonton film dokumenter tentang suatu wilayah sekarat di Afrika. Dari hal sederhana itu, bisa kita meneropong bagaimana cara atau mental orang-orang kota di sana: cuek, agresif, inkonsisten, malas.
Di kota Tarutung ini, ada dua sungai besar. Yang satu adalah yang membelah kota, dinamai Aek Sigeaon/Aek Godang (sumber lain ada yang menulis sebagai Sungai Batangtoru). Yang kedua adalah Aek Situmandi, yang memagari kota Tarutung dari sebelah tenggara, mengalir melewati kecamatan Siatas Barita.Seperti telah saya katakan sebelumnya, aset Tarutung yang paling cantik adalah sungai Sigeaon itu. Mari kita jalan di sore hari dan berhenti sebentar di jembatan dekat RSU. Lalu menghadap selatan. Karena sinar matahari yang temaram, serta lampu-lampu kecil yang mulai dinyalakan, kita bisa melihat warna air sungai yang coklat kehijauan, dengan ujungnya yang berkilau di kejauhan tertimpa sisa terik matahari. Sesekali ada bias-bias yang berkilau keemasan. Indah sekali!!
Yang menarik pula, di sisi barat, tanggul sungai ini dimanfaatkan dengan didiirikannya berbagai cafe tenda. Ada kira-kira 4 cafe, dengan tenda terpal maupun permanen. Selain itu masih ada bangku-bangku, serta semacam dermaga yang lebih bersifat dekoratif ketimbang fungsional. Setiap malam, memuncak pada malam minggu, banyak muda-mudi tarutung berkumpul di tempat ini.
Bicara masalah teknik pengelolaan sungai ini, terlebih dalam kacamata pariwisata, sayang sekali kurang ada yang berkarakter dari cafe-cafe itu. Baik dari segi menu, maupun pengemasan tempat. Kurang ada ambience. Saya ingat cafe-cafe di Bandung yang warna-warni, penuh alternatif.
“Tarutung kan bagus, din! Sekali waktu saya main ke situ lah!”, begitu kata teman saya yang sama-sama di SMP yang kini tugas di Sumatera Utara pula. Seandainya benar datang, akan saya ajak ke cafe ini, dengan catatan, tak perlu mengharap banyak dari segi menu atau suasananya. Cukup duduk dan melihat-lihat aliran sungai yang mengalir, itulah Sigeaon na uli.
AI DIA DO GOMBAR NI CAFE TENDA I
NGAMASIHOL IBA FOANG TU TARUTUNG