“Ndeso Tenan” Alias PH3 (PeHa Tolu)

Saya adalah orang Jawa, dan saya masih ingat bagaimana dulu seorang tokoh pelawak lokal kawakan yang menjadi host (dulu sih namanya bukan ‘host’, tapi pengasuh acara) di sebuah radio di Jogja, Mbah Guno bilang bahwa zaman ini sudah berubah. Teknologi telah berkembang pesat sekali. Oleh karena itu, pesannya, kita sebagai orang Jawa harus memegang teguh prinsip: AJA GUMUN!

‘Aja gumun’ itu artinya ‘jangan (aja) heran (gumun)’. Orang yang suka melongo, terlongoh-longoh (saya tidak tahu, apakah kata ‘longoh’ itu ada, hahaha, cuma intuisi saja!) setiap kali ada hal yang asing. Saya masih ingat, anak tetangga saya punya mainan dengan remote controll. Ramai anak-anak kampung datang dan merubung. Semuanya pada heran alias gumun. Sampai akhirnya pecah, dengan suara pongah teman saya: “Uuu, NDESOO!” Kami pun menelan ludah karena malu. ‘Ndeso’ adalah istilah lain lagi. Dari kata ‘deso’ yang berarti desa, istilah ini menunjuk pada perilaku udik yang pantas disandang orang-orang desa yang kerjanya cuma bertani, tidak terambah kemajuan teknologi, dan hanya bisa melongo terheran-heran kalau dipameri sesuatu. Orang yang suka melongo-longo dan yang udik, meski dia adalah orang kota, bisa saja disebut demikian.

Selama ini, setelah beberapa bulan di Tano Batak ini, saya terperanjat. Ternyata istilah yang senada dengan ‘nDeso’ muncul juga di sini. Orang akan berbisik-bisik, tuh orang itu Parhuta-huta! Orang itu dari kampung-kampung, alias orang udik! Biasanya lebih menyangkut gaya yang kurang susila. Makan dengan porsi duileee, atau bawa plastik saat datang di pesta untuk membawa pulang lauk, atau berteriak-teriak, koar-koar atas sesuatu yang sensasional (menurut mereka) dan yang lain-lain.

Di sini, orang disebut Parhuta-huta karena perilaku yang menyeluruh yang disandang oleh orang dari huta-huta (kampung-kampung). Bukan sekedar tukang melongo. Hebatnya, orang Batak ini tidak pernah malu. Mereka yang dari huta-huta justru bangga. Tidak ada yang salah dari perilaku tersebut. Saya sendiri, ketika makan di kampung-kampung, menangkap atmosfer ‘kebanggaan’ ini, hingga saya merenung-renung: iya, ya, masalah kesusilaan-kesopanaan itu kan tidak bisa tunggal secara absolut. Untuk hal-hal yang pokok, memang iya, tapi kalau masalah makan, rasanya semua orang bebas. Lagipula soal istilah, saya dan teman-teman lain lebih sepakat untuk mengatakannya sebagai: eksotis. Kalau demikian tentu lebih exciting, kan!?

Jadi bingung deh! Hehe, tapi perlu diketahui pula, bahwa diantara orang-orang Batak beredar istilah yang superlatif, PH3 alias Peha tolu, yang merupakan kependekan dari ParHuta-Huta Hian. Artinya benar-benar kampungan, alias dalam bahasa Jawa: Ndesso Tenan!!!

1 Comment

Filed under Budaya dan Perilaku

‘Garedja’ Huta Dame di Sait Ni Huta (1)

Kalau kita menyusuri Jalan Raja Yohanes ke arah Kecamatan Siatas Barita, lalu sebelum belok ke Jembatan Simorangkir, kita tempuh jalan yang lurus, kita akan sampai ke sebuah daerah yang disebut Sait Ni Huta. Meskipun ‘sait’ berarti ‘runcing’, tidak ada yang tahu pasti apa kiranya arti dari Sait Ni Huta. Yang jelas, tanpa makna leksikal, secara historis daerah ini telah menemukan artinya sendiri.

Kira-kira satu kilometer berjalan, berdiri dengan kokoh di pinggir jalan, sebuah patung Nommensen dengan tinggi 3 meter, terbuat dari semen, dengan balutan cat hitam, terkesan seperti pahatan batu granit. Khusus daerah ini disebut sebagai Huta Dame, tempat terkembangnya proses katekese Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen.

Nomensen adalah tokoh, dan tidak salah kalau dia menjadi ikon di tempat ini. Kedatangan Nommensen ke Silindung tercatat pada 1863. Ketika itu, ia ada di tengah-tengah puluhan raja yang penuh syak, dan menolak kedatangannya. “Pagi-pagi sudah banyak raja berkumpul di sopo membicarakan tentang kedatangan Nommensen. Setiap hari mereka datang mengajukan pertanyaan yang itu-itu juga, dan jawab Nommensenpun itu-itu juga. Ada raja yang berkata: ‘Tuturmu kedengaran manis, tapi dalam hati barangkali lain.’ ‘Kamu ini disuruh Kompeni memata-matai negeri kami, supaya kami dapat ditaklukkan.’ Yang lain berkata: ‘Nanti akan datang dari Pohan memenggal kepalamu dan memakan dagingmu.’ Nommensen menjawab dengan tenang dan sabar: ‘Itu tidak mungkin. Sedangkan sehelai rambutpun tidak dapat kalian ambil kalau tidak seizin Tuhan.’ Seorang berkata sambil mengedipkan mata kepada kawannya: ‘Ah, ini Iblis.’” (Ompu i Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, dikarang oleh anaknya, J.T. Nommensen).

Setelah mendirikan rumah sederhana di atas tanah di sebelah timur Pearaja, sebagai pemberian dari Raja Ompu Bumbung dan Raja Ompu Sinangga, Nommensen mendapat lagi tanah ‘jelek’ di daerah Saitnihuta. Disebut jelek karena demikian: Tanah ini dapat dikatakan tak ada pemiliknya, karena merupakan bekas palung Sungai Situmandi yang arah alirannya telah berubah melewati Hutagalung, sebagai akibat gempa besar pada tahun 1860. Sebelum itu Sungai Situmandi mengalir melalui Saitnihuta. Tidak ada apapun yang tumbuh di tanah itu, semuanya pasir belaka. Di atas pasir itulah Nommensen mendirikan rumahnya. Pada 1864, Nommensen mulai mendirikan rumahnya di tempat itu.

Tempat itulah yang merupakan cikal bakal misi Nommensen. Tidak ada catatan mengenai pemberian nama Huta Dame. Barangkali, Nommensen sendiri yang memberikannya. Setelah berkali-kali dicobai dan diganggu oleh para Raja Batak yang ingin memperlihatkan kekuasaannya, pelan-pelan Nommensen memperkenalkan misinya lewat jalur pendidikan Barat dan pengobatan yang mutakhir pada zaman itu. Huta Dame pun menjadi sebuah kompleks perkampungan Kristen di tengah-tengah Rura Silindung.

Leave a Comment

Filed under Situs atau landmark